Rabu, 25 November 2015

Ternyata Hari Jum’at itu Istimewa

Ternyata Hari Jum’at itu Istimewa

Agama Islam mempunyai hari yang istimewa dalam deretan 7 hari yang kita kenal, hari itu adalah hari jum’at. Dalam artikel kali ini, akan diuraikan beberapa keutamaan-keutamaan serta amalan-amalan yang disyari’atkan pada hari jum’at. Semoga dengan kita memahami keutamaannya, kita bisa lebih bersemangat untuk memaksimalkan dalam melaksanakan amalan-amalan yang disyari’atkan pada hari itu, dan agar bisa meraih keutamaan-keutamaan tersebut.
Keutamaan Hari Jum’at
1. Hari paling utama di dunia
Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:
  • Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya kiamat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata:
“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)
jumat itu istimewa - berdakwah.net
2. Hari bagi kaum muslimin
Hari jum’at adalah hari berkumpulnya umt Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah jum’at yang berisi wasiat taqwa dan nasehat-nasehat, serta do’a.
Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at, Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari
Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad)
4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenyebut hari jum’at lalu beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari Muslim)
Namun mengenai penentuan waktu, para ulama berselisih pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada 2 pendapat yang paling kuat:
a. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at
Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umarradhiyallahu ‘anhuma berkata padanya, “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?” Lalu Abu Burdah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.’” (HR. Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat di atas. Sedangkan Imam As-Suyuthirahimahullah menentukan waktu yang dimaksud adalah ketika shalat didirikan.
b. Batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘ashar
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)
Dan yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau mengatakn bahwa, “Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan generasi salaf dan banyak sekali hadits-hadits mengenainya.”
5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya
Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.”(HR. Bukhari)
Amalan-Amalan yang Disyari’atkan pada Hari Jum’at
1. Memperbanyak shalawat
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)
2. Membaca surat Al Kahfi
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua jum’at.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
3. Memperbanyak do’a (HR Abu Daud poin 4b.)
4. Amalan-amalan shalat jum’at (wajib bagi laki-laki)
  • Mandi, bersiwak, dan memakai wangi-wangian.
  • Berpagi-pagi menuju tempat shalat jum’at.
  • Diam mendengarkan khatib berkhutbah.
  • Memakai pakaian yang terbaik.
  • Melakukan shalat sunnah selama imam belum naik ke atas mimbar.
Saudariku, setelah membaca artikel tersebut semoga kita bisa mendapat manfaat yang lebih besar dengan menambah amalan-amalan ibadah yang disyari’atkan. Sungguh begitu banyak jalan agar kita bisa meraup pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal perjalanan kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam.
Maraji’:
  1. Do’a dan Wirid, Pustaka Imam Asy-Syafi’i
  2. Tafsir Ayat-Ayat Yaa Ayyuhal-ladziina Aamanuu, Pustaka Al-Kautsar
  3. Amalan dan Waktu yang Diberkahi, Pustaka Ibnu Katsir

***
Penyusun: Ummu Aufa
Muraja’ah: Ustadz Abu Salman
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/ternyata-hari-jumat-itu-istimewa.html
blog.berdakwah.net

24 Adab dan Sebab Terkabulnya Daaa

Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang
muslim itu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan suatu doa yang
tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi di dalamnya, melainkan
Allah subhanahu wa ta’ala memberikannya salah satu dari tiga
kemungkinan. Yaitu Dia segera mengabulkan doanya, atau Dia akan
menyimpan baginya di akhirat kelak, atau Dia akan menghindarkan darinya
keburukan dan yang semisalnya.” Maka para Sahabat berkata : “Jika
demikian, kita akan memperbanyaknya (doa).” Kemudian  Rasullulah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala lebih
banyak (memberikan pahala karenanya).

[HR. Ahmad (III/18),
al-Bukhari dalam kitab : al-Adabul Mufrad No. 710, al-Hakim (I/493) dari
Abu Sa’id al-Khudri dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih
al-Adabil Mufrad (No. 547)]24 Adab dan Sebab Terkabulnya Do'a

Secara
umum makna dari hadist diatas adalah Allah subhanahu wa ta’ala bisa
jadi akan langsung mengabulkan doa yang dipanjatkan seorang hamba, atau
Allah subhanahu wa ta’ala akan menyimpan doa tersebut sebagai sebuah
kebaikan bagi hamba itu kelak di akhirat, ataupun Allah subhanahu wa
ta’ala menjadikan doa seorang hamba sebagai penghindar seorang hamba
dari suatu keburukan/bencana yang akan menimpanya. Maka maknailah hal
tersebut dengan selalu berprasangka baik kepada Allah subhanahu wa
ta’ala. Jangan pernah mengeluh dengan ketentuan yang telah Allah
subhanahu wa ta’ala tetapkan karena pasti ada hikmah besar dibalik itu
semua yang mungkin saja tidak kita ketahui.

Berikut ini adalah
beberapa adab dan faktor penyebab dikabulkannya doa berdasarkan nukilan
dari kitab “Kumpulan Do’a dari Al-Qur’an dan as Sunnah yang Shahih”
karya al- Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullahu ta’ala :

  1. Ikhlas berdoa hanya karena Allah semata (Lihat Q.S Al-Mu’min ayat 14 dan Al Bayyinah ayat 5).
  2. Mengawali
    doa dengan pujian dan sanjungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
    kemudian diikuti bacaan shalawat kepada Rasullulah shallallahu ‘alaihi
    wa sallam, kemudian akhiri doa dengan cara yang sama.
  3. Bersungguh-sungguh
    dalam berdoa, serta yakin bahwa setiap permohonan yang dipanjatkan
    pasti akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
  4. Mendesak dengan penuh tawadhu (kerendahan hati) saat berdoa, dan tidak terburu-buru dalam memohonkannya.
  5. Menghadirkan hati didalam setiap doa.
  6. Berdoa baik pada saat senang (keadaan lapang), maupun ketika dirundung kesedihan (musibah).
  7. Tidak boleh berdoa dan memohon sesuatu kecuali HANYA kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  8. Tidak mendoakan suatu keburukan bagi keluarga, harta, anak dan diri sendiri.
  9. Merendahkan suara ketika berdoa, yaitu antara samar-samar dan keras (Lihat HR. Bukhari No. 6384 dan Muslim No. 2704).
  10. Mengakui
    dosa yang telah diperbuat kemudian memohon ampunan atasnya, serta
    mengakui segala nikmat yang telah kita terima, dan bersyukur atas nikmat
    tersebut.
  11. Tidak perlu membebani diri dengan membuat sajak dalam berdoa (Lihat doa-doa yang terdapat dalam Al-Quran dan as-Sunnah).
  12. Tadharru
    (merendahkan diri), khusyu, raghbah (berharap untuk dikabulkan), dan
    rahbah (rasa takut tidak dikabulkan) sebagaimana yang terdapat pada Q.S
    Al-Anbiyaa ayat 90.
  13. Mengembalikan hak orang lain yang pernah didzalimi disertai dengan taubat.
  14. Memanjatkan doa tiga kali.
  15. Menghadap kiblat.
  16. Berdoa dengan mengangkat kedua tangan.
  17. Jika
    memungkinkan hendaklah berwudhu sebelum berdoa kepada Allah subhanahu
    wa ta’ala (Lihat Shahih al-Adzkar wa Dha’ifuhu halaman 960-962).
  18. Tidak berlebih-lebihan dalam berdoa (memohon sesuatu yang menyalahi kodrat sebagai seorang hamba).
  19. Bertawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi.
  20. Setiap makanan dan minuman serta pakaian yang digunakan harus berasal dari harta yang halal.
  21. Tidak berdoa untuk segala macam kemaksiatan.
  22. Tidak berdoa untuk memutus silaturahmi.
  23. Harus
    disertai dengan menegakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu dengan cara
    menyuruh kepada suatu kebaikan serta mencegah dari suatu kemungkaran.
  24. Disunnahkan
    memulai doa dengan mendoakan diri sendiri, baru kemudian mendoakan
    orang lain (Lihat Syaruh Nawawi lish Shahih Muslim XV/144, Tuhfatul
    Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi IX/328 dan al Bukhari yang disertai
    kitab Fathul Bari I/28).
wallahu ‘alam bishawab.

sumber:berdakwah.blog.net

Dimana Allah SWT Berada?

Dimana Allah? Di langit? Di mana-mana? Atau kita dilarang menanyakan hal itu? Berikut, penjelasan yang logis berdasarkan dalil.

Bismillah,
banyak diantara kita yang mungkin belum tahu Allah itu dimana. Ada yang
menjawab di langit, dimana-mana, ada yang mengatakan, “Allah tidak di
atas, tidak juga di bawah, tidak di sebelah kanan tidak pula di sebelah
kiri, tidak di barat tidak di timur, tidak di selatan tidak juga di
utara.”ataupun ada yang menganggap pertanyaan seperti itu adalah
terlarang.


Dimana?
Sebagian menjawab ada dimana-mana. Berarti Allah ada di kananmu, di
kirimu, di masjid, di rumah, bahkan di dalam dirimu. Ini tentu tidak ada
dasarnya maman, Allah itu Maha Besar, tidaklah mungkin ada di
tempat-tempat seperti itu. Terlebih sangat batil jika mengatakan Allah
ada dalam diri kita. Kita bukan Rosul, kita hanya makhluk yang penuh
dosa tidak pantas menjadi tempat bagi Allah Yang Mahasuci. Mungkin yang
beranggapan Allah ada dalam dirinya dia seperti menuhankan dirinya
sendiri. Setan juga ada dalam diri kita. Emm, atau yang dimaksud ya
setannya itu?


Oke,
Allah ada dimana? Tidak di atas? Tidak di bawah? Tidak di sebelah
kanan? Tidak di sebelah kiri? Tidak di barat ataupun timur? Tidak di
utara maupun selatan? Lalu dimana? Apa artinya itu Allah tidak
dimana-mana? berarti Allah tidak ada? Pernyataan seperti itu tentulah
batil mamen, karena Allah itu ada.


1017060_616493795052291_1185393018_n

“Kalau
ada yang menjawab Allah itu tidak terikat ruang dan waktu. Karena Allah
lah yang menciptakan ruang dan waktu itu sendiri. Oke mungkin bisa
kelihatan “masuk akal”. Pertanyaannya, apa dalilnya? Kenapa harus minta
dalil? Kan kita bukan nabi. Dalam beragama, wahyu tidak turun melalui
kita. Wahyu turun melalui lisan Rosulullah Shalallahi’alai
hiwasalam. Konsekuensinya kita harus mengimani yang Rosulullah sampaikan.

Berbicara
mengenai perkara sifat-sifat Allah itu perlu disandarkan kepada
kabar-kabar yang Rosulullaah sampaikan. WE HAVE NO ANY IDEA ABOUT THIS
kecuali disandarkan kepada dalil. Kita tidak bisa mengatakan Allah itu
tidak terikat kepada dimensi ruang dan waktu jika tidak ada dalil. Kita
tidak bisa berbicara Allah itu ada dimana-mana jika tanpa dalil. Kita
tidak bisa mengatakan Allah itu ada di langit jika tanpa dalil.


Oke
perhatikan hadits berikut. Di dalam Shohih Muslim, dan Sunan Abi Daud,
Sunan An Nasa`i, dan lainnya dari sahabat Mu’awiyah bin Hakam as Sulami,
ia berkata: Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku
ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya,
tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya -sedang aku
ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan kesedihan-
maka akupun amat menyayangkannya
 hingga
kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya, pent.), lalu aku
mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian
itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, “Wahai
Rosulullah apakah aku harus memerdekakannya
?”
Beliau menjawab, “Panggil dia kemari!” Aku segera memanggilnya, lalu
beliau bertanya padanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.”
“Siapa aku?” tanya Rosul. “Engkau Rosulullah (utusan Allah)” ujarnya.
Kemudian Rosulullah berkata padaku, “Merdekakan dia, sesungguhnya dia
seorang mu`min.” (HR Muslim)


Perhatikan ya, dari riwayat di atas kita bisa ambil 3 pelajaran penting. 

Pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keimanan sang budak ketika ia mengetahui bahwa Allah di atas langit. 

Kedua: Disyari’atkannya ucapan seorang muslim yang bertanya “Di mana Allah?”. 

Ketiga: Disyari’atkannya bagi orang yang ditanya hal itu agar menjawab, “Di atas langit.”

Oke, sudah terjawab. Allah dimana? Di langit. Bolehkah bertanya Allah itu dimana? Boleh.

Tidaklah
mengherankan bila kemudian penetapan bahwa Dzat Allah di atas langit
menjadi keyakinan para imam yang empat, imam Abu Hanifah berkata,
“Barangsiapa yang mengingkari Allah ‘azza wa jalla di langit maka ia
telah kufur!” Imam Malik mengatakan, “Allah di atas langit, sedang
ilmuNya (pengetahuanNya
)
di setiap tempat, tidak akan luput sesuatu darinya.” Imam asy Syafi’i
berkata, “Berbicara tentang sunnah yang menjadi peganganku dan para ahli
hadits yang saya lihat dan ambil ilmunya seperti Sufyan, Malik, dan
selain keduanya, adalah berikrar bahwa tidak ada ilah (yang berhak untuk
diibadahi secara benar) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan
Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas ‘arsy di langit…”
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Apakah Allah di atas langit
yang ke tujuh di atas ‘arsyNya jauh dari makhlukNya, sedangkan
kekuasaanNya dan pengetahuanNya di setiap tempat?” Beliau menjawab, “Ya,
Dia di atas ‘arsy-Nya tidak akan luput sesuatupun darinya.” (Lihat
kitab Al ‘Uluw, Imam adz Dzahabi).


Jika belum mantap dengan jawaban itu. Silakan dibuka mushaf Al Quran mamen. Lalu cari ayat-ayat berikut,

”Apakah
kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan
menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?”
(Al-Mulk : 16) Pertanyaan : Siapakah DZAT yang di atas langit tsb ?


”Mereka
(para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka,
dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”.
 (An-Nahl : 50). Pertanyaan : Siapakah Tuhan mereka yang berada di atas mereka ?

”Wahai
Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku”
(Ali Imran : 55). Artinya : ”Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni
Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158). Pertanyaan : mengangkat itu dari
mana ke mana ? berarti Yang mengangkat dimana ?


Artinya
: ”Dan berkata Fir’aun : Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi
supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke
langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku
mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).
Pertanyaan : kira-kira apa yang dikatakan Musa as kpd fir’aun sehingga
fir’aun membuat bangunan yang tinggi supaya dapat menuju ke langit
supaya dapat melihat Tuhan(nya) Musa ?


Nabi
kita SAW telah bersabda : Artinya : ”Orang-orang yang penyayang, mereka
itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan
Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi,
niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih.
Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim
4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah
dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi)


”Barangsiapa
yang tidak menyayangi orang yang dimuka bumi, niscaya tidak akan di
sayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam
Thabrani di kitabnya ”Mu’jam Kabir No. 2497Pertanyaan : Siapakah Dzat
yang di atas langit yang dimaksud?


”Tidakkah
kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di
atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi
dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan
Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry). Pertanyaan : Siapakah Dzat
yang di atas langit yang dimaksud?


”Demi
Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang
mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri
menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai
suaminya ridla kepadanya ”.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/
157 dari jalan Abu Hurarirah).Pertanyaan : Siapakah Dzat yang di atas langit yang dimaksud?

”Silih
berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat siang dan
mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian
naik malaikat yang bermalam dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya
kepada mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka : ”Bagaimana
(keadaan mereka) sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku ? Mereka
menjawab : ”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang
kepada mereka dalam keadaan shalat”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam
Bukhari 1/139 dan Muslim 2/
113 dll).Pertanyaan : kemana malaikat pergi menghadap Tuhannya?

”Jabir
bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu
hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi SAW di
padang ‘Arafah : ”(Jabir menerangkan) : Lalu Nabi SAW mengangkat jari
telunjuknya ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada
manusia, (kemudian beliau berdo’a) : ”Ya Allah saksikanlah ! Ya Allah
saksikanlah ! ( Riwayat Imam Muslim 4/41). Pertanyaan : Kenapa Nabi SAW
mengangkat jari telunjuknya ke arah langit?


Umar bin Khatab pernah mengatakan : Artinya : ”Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya)
dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit ” [Imam
Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti
Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)]
. Pertanyaan : Kenapa Umar mengisyaratkan tangannya ke langit?

Anas
bin Malik menerangkan : Artinya : ”Adalah Zainab memegahkan dirinya
atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : ”Yang mengawinkan kamu (dengan
Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi)
adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”. Dalam satu lafadz Zainab
binti Jahsyin mengatakan : ”Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku
(dengan Nabi) dari atas langit”. (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176).Pertan
yaan : dimanakah Allah menurut Zainab ?

Hanya ada 2 pilihan :
1. Beriman dengan apa yang dikatakan Allah dan Rasulnya dengan mengucapkan sami’na wa ato’na dan itu adalah jalan yang selamat,
2. Ingkari ayat dan hadits tersebut, engkau dustakan dan berani membantah kalamulloh

[UPDATE]
kita hanya mendapatkan kabar dari Rosulullaah mengenai Allah di langit,
bersemayam di atas Arsy Nya. Tidak usah kita membayangkan bagaimana
Allah bersemayam, bagaimana besarnya ArsyNya Allah, dsb yang tidak
Rosulullah kabarkan. 😉

***
sumber : http://al-uyeah.blogspot.com/2013/06/dimana-allah.html

Dimana Allah SWT Berada?

Dimana Allah? Di langit? Di mana-mana? Atau kita dilarang menanyakan hal itu? Berikut, penjelasan yang logis berdasarkan dalil.

Bismillah,
banyak diantara kita yang mungkin belum tahu Allah itu dimana. Ada yang
menjawab di langit, dimana-mana, ada yang mengatakan, “Allah tidak di
atas, tidak juga di bawah, tidak di sebelah kanan tidak pula di sebelah
kiri, tidak di barat tidak di timur, tidak di selatan tidak juga di
utara.”ataupun ada yang menganggap pertanyaan seperti itu adalah
terlarang.


Dimana?
Sebagian menjawab ada dimana-mana. Berarti Allah ada di kananmu, di
kirimu, di masjid, di rumah, bahkan di dalam dirimu. Ini tentu tidak ada
dasarnya maman, Allah itu Maha Besar, tidaklah mungkin ada di
tempat-tempat seperti itu. Terlebih sangat batil jika mengatakan Allah
ada dalam diri kita. Kita bukan Rosul, kita hanya makhluk yang penuh
dosa tidak pantas menjadi tempat bagi Allah Yang Mahasuci. Mungkin yang
beranggapan Allah ada dalam dirinya dia seperti menuhankan dirinya
sendiri. Setan juga ada dalam diri kita. Emm, atau yang dimaksud ya
setannya itu?


Oke,
Allah ada dimana? Tidak di atas? Tidak di bawah? Tidak di sebelah
kanan? Tidak di sebelah kiri? Tidak di barat ataupun timur? Tidak di
utara maupun selatan? Lalu dimana? Apa artinya itu Allah tidak
dimana-mana? berarti Allah tidak ada? Pernyataan seperti itu tentulah
batil mamen, karena Allah itu ada.


1017060_616493795052291_1185393018_n

“Kalau
ada yang menjawab Allah itu tidak terikat ruang dan waktu. Karena Allah
lah yang menciptakan ruang dan waktu itu sendiri. Oke mungkin bisa
kelihatan “masuk akal”. Pertanyaannya, apa dalilnya? Kenapa harus minta
dalil? Kan kita bukan nabi. Dalam beragama, wahyu tidak turun melalui
kita. Wahyu turun melalui lisan Rosulullah Shalallahi’alai
hiwasalam. Konsekuensinya kita harus mengimani yang Rosulullah sampaikan.

Berbicara
mengenai perkara sifat-sifat Allah itu perlu disandarkan kepada
kabar-kabar yang Rosulullaah sampaikan. WE HAVE NO ANY IDEA ABOUT THIS
kecuali disandarkan kepada dalil. Kita tidak bisa mengatakan Allah itu
tidak terikat kepada dimensi ruang dan waktu jika tidak ada dalil. Kita
tidak bisa berbicara Allah itu ada dimana-mana jika tanpa dalil. Kita
tidak bisa mengatakan Allah itu ada di langit jika tanpa dalil.


Oke
perhatikan hadits berikut. Di dalam Shohih Muslim, dan Sunan Abi Daud,
Sunan An Nasa`i, dan lainnya dari sahabat Mu’awiyah bin Hakam as Sulami,
ia berkata: Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku
ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya,
tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya -sedang aku
ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan kesedihan-
maka akupun amat menyayangkannya
 hingga
kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya, pent.), lalu aku
mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian
itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, “Wahai
Rosulullah apakah aku harus memerdekakannya
?”
Beliau menjawab, “Panggil dia kemari!” Aku segera memanggilnya, lalu
beliau bertanya padanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.”
“Siapa aku?” tanya Rosul. “Engkau Rosulullah (utusan Allah)” ujarnya.
Kemudian Rosulullah berkata padaku, “Merdekakan dia, sesungguhnya dia
seorang mu`min.” (HR Muslim)


Perhatikan ya, dari riwayat di atas kita bisa ambil 3 pelajaran penting. 

Pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keimanan sang budak ketika ia mengetahui bahwa Allah di atas langit. 

Kedua: Disyari’atkannya ucapan seorang muslim yang bertanya “Di mana Allah?”. 

Ketiga: Disyari’atkannya bagi orang yang ditanya hal itu agar menjawab, “Di atas langit.”

Oke, sudah terjawab. Allah dimana? Di langit. Bolehkah bertanya Allah itu dimana? Boleh.

Tidaklah
mengherankan bila kemudian penetapan bahwa Dzat Allah di atas langit
menjadi keyakinan para imam yang empat, imam Abu Hanifah berkata,
“Barangsiapa yang mengingkari Allah ‘azza wa jalla di langit maka ia
telah kufur!” Imam Malik mengatakan, “Allah di atas langit, sedang
ilmuNya (pengetahuanNya
)
di setiap tempat, tidak akan luput sesuatu darinya.” Imam asy Syafi’i
berkata, “Berbicara tentang sunnah yang menjadi peganganku dan para ahli
hadits yang saya lihat dan ambil ilmunya seperti Sufyan, Malik, dan
selain keduanya, adalah berikrar bahwa tidak ada ilah (yang berhak untuk
diibadahi secara benar) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan
Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas ‘arsy di langit…”
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Apakah Allah di atas langit
yang ke tujuh di atas ‘arsyNya jauh dari makhlukNya, sedangkan
kekuasaanNya dan pengetahuanNya di setiap tempat?” Beliau menjawab, “Ya,
Dia di atas ‘arsy-Nya tidak akan luput sesuatupun darinya.” (Lihat
kitab Al ‘Uluw, Imam adz Dzahabi).


Jika belum mantap dengan jawaban itu. Silakan dibuka mushaf Al Quran mamen. Lalu cari ayat-ayat berikut,

”Apakah
kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan
menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?”
(Al-Mulk : 16) Pertanyaan : Siapakah DZAT yang di atas langit tsb ?


”Mereka
(para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka,
dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”.
 (An-Nahl : 50). Pertanyaan : Siapakah Tuhan mereka yang berada di atas mereka ?

”Wahai
Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku”
(Ali Imran : 55). Artinya : ”Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni
Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158). Pertanyaan : mengangkat itu dari
mana ke mana ? berarti Yang mengangkat dimana ?


Artinya
: ”Dan berkata Fir’aun : Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi
supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke
langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku
mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).
Pertanyaan : kira-kira apa yang dikatakan Musa as kpd fir’aun sehingga
fir’aun membuat bangunan yang tinggi supaya dapat menuju ke langit
supaya dapat melihat Tuhan(nya) Musa ?


Nabi
kita SAW telah bersabda : Artinya : ”Orang-orang yang penyayang, mereka
itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan
Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi,
niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih.
Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim
4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah
dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi)


”Barangsiapa
yang tidak menyayangi orang yang dimuka bumi, niscaya tidak akan di
sayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam
Thabrani di kitabnya ”Mu’jam Kabir No. 2497Pertanyaan : Siapakah Dzat
yang di atas langit yang dimaksud?


”Tidakkah
kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di
atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi
dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan
Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry). Pertanyaan : Siapakah Dzat
yang di atas langit yang dimaksud?


”Demi
Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang
mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri
menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai
suaminya ridla kepadanya ”.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/
157 dari jalan Abu Hurarirah).Pertanyaan : Siapakah Dzat yang di atas langit yang dimaksud?

”Silih
berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat siang dan
mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian
naik malaikat yang bermalam dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya
kepada mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka : ”Bagaimana
(keadaan mereka) sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku ? Mereka
menjawab : ”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang
kepada mereka dalam keadaan shalat”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam
Bukhari 1/139 dan Muslim 2/
113 dll).Pertanyaan : kemana malaikat pergi menghadap Tuhannya?

”Jabir
bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu
hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi SAW di
padang ‘Arafah : ”(Jabir menerangkan) : Lalu Nabi SAW mengangkat jari
telunjuknya ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada
manusia, (kemudian beliau berdo’a) : ”Ya Allah saksikanlah ! Ya Allah
saksikanlah ! ( Riwayat Imam Muslim 4/41). Pertanyaan : Kenapa Nabi SAW
mengangkat jari telunjuknya ke arah langit?


Umar bin Khatab pernah mengatakan : Artinya : ”Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya)
dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit ” [Imam
Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti
Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)]
. Pertanyaan : Kenapa Umar mengisyaratkan tangannya ke langit?

Anas
bin Malik menerangkan : Artinya : ”Adalah Zainab memegahkan dirinya
atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : ”Yang mengawinkan kamu (dengan
Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi)
adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”. Dalam satu lafadz Zainab
binti Jahsyin mengatakan : ”Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku
(dengan Nabi) dari atas langit”. (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176).Pertan
yaan : dimanakah Allah menurut Zainab ?

Hanya ada 2 pilihan :
1. Beriman dengan apa yang dikatakan Allah dan Rasulnya dengan mengucapkan sami’na wa ato’na dan itu adalah jalan yang selamat,
2. Ingkari ayat dan hadits tersebut, engkau dustakan dan berani membantah kalamulloh

[UPDATE]
kita hanya mendapatkan kabar dari Rosulullaah mengenai Allah di langit,
bersemayam di atas Arsy Nya. Tidak usah kita membayangkan bagaimana
Allah bersemayam, bagaimana besarnya ArsyNya Allah, dsb yang tidak
Rosulullah kabarkan. 😉

***
sumber : http://al-uyeah.blogspot.com/2013/06/dimana-allah.html

tujuan terakhir kita semua

Karena pada akhirnya kita akan dibaringkan di dalam tempat yang sama..
Apapun yang kamu miliki..
Apapun yang kamu peroleh..
Apapun yang kamu dapatkan..
Apapun yang kamu bangga-banggakan..
Apapun yang kamu agung-agungkan..
Semuanya akan kamu tinggalkan.. 😢
db14e083f211c0b7f8d655e9a5643b53
Ketahuilah wahai sahabatku
Keinginan manusia itu ibarat koin-koin logam
Semakin banyak keinginanmu, maka semakin berat beban yang kau pikul..
Dan ketahuilah bahwasanya manusia TIDAK AKAN PERNAH PUAS bila ia sendiri tidak mampu untuk mensyukuri..
Jadilah hamba yang menjadikan dunia ini sebagai ladang amal..
Jadilah hamba yang memelihara sifat tawadhu di dunia..
Jadilah hamba yang pandai dalam bersyukur..
Hidup ini hanya sekali kawan dan kain kafan tidak di desain dengan kantung untuk kau bawa serta koin-koin keinginanmu tadi.. 😢
Cukupkan keinginan’mu dan lebihkan Rasa Syukurmu.


😇
***
sumber: blog .berdakwah.net

Umrah Butuh Kesabaran

FiqihBerdakwah.net at Makkah
Share if You Care:
Salah satu tips tips utama yang harus dimiliki setiap orang yang berumrah adalah sabar. Kesabaran ini harus dimiliki ketika di perjalanan, saat menunaikan umrah dan ketika balik ke tanah air.
Dalam ayat suci Al Qur’an disebutkan firman Allah,
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah: 197).
Lihatlah Allah memerintahkan bagi yang berhaji untuk sabar. Demikian pula umrah semisal itu. Allah memerintahkan untuk menghindari jidal, yaitu beradu argumen. Karena memamg saat haji atau umrah, kita akan bertemu dengan berbagai macam orang yang punya watak yang berbeda-beda. Ada yang punya cara berbicara yang keras dan ada yang punya watak yang lain karena datang dari berbagai penjuru negeri.
Coba lihat saja saat berangkat umrah, kita sudah merasakan susahnya safar. Perjalanan yang lama hingga 24 jam di perjalanan dan tentu melelahkan.
Berdakwah.net at Makkah
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
“Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927). Yang dimaksud adzab dalam hadits di atas adalah rasa sakit yang timbul dari kesulitan yang dihadapi ketika berkendaraan dan berjalan sampai harus meninggalkan hal-hal yang disukai. (Fathul Bari, Ibnu Hajar)
Saat sampai di Jeddah, coba lihat saja sebagian kita harus mengantri di imigrasi berjam-jam, itu tentu butuh kesabaran.
Ketika pelaksanaan umrah juga harus sabar. Saat thawaf, kita akan bertemu dengan watak yang suka dorong-dorongan. Ada juga yang mengelilingi thawaf sambil mengeraskan suara hingga memekakkan telinga yang lain. Padahal thawaf cukup dengan suara lirih tanpa mengganggu yang lain. Dan juga ibadah tersebut cukup dilakukan sendiri-sendiri tanpa mesti dikomandoi seorang imam saat mengelilingi Baitullah Al Haram.
Saat pulang pun akan mengalami kesulitan di perjalanan sama seperti saat beangkat.
Ketika pergi dan pulang, niat kita juga harus dijaga ikhlas karena Allah. Karena kadang di awal sudah ingin cari pujian, di tengah dan saat mau berakhir pun demikian. Jadi perlu kesabaran menjaga niat yang ikhlas.
Begitu pula saat pulang akan merasakan kecapekan. Itu tentu butuh kesabaran yang ekstra.
Kita pun akan merasakan susahnya antri di kamar mandi dan pemeriksaan, sehingga semuanya butuh kesabaran.
Kalau kita terus bersabar, maka kita bisa mewujudkan yang disebut dalam ayat: “tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.”
Pahala orang yang sabar disebutkan dalam ayat,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 7: 89)
Moga yang melaksanakan umrah mendapatkan keutamaan yang disebutkan dalam hadits.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Di antara umrah yang satu dan umrah lainnya akan menghapuskan dosa di antara keduanya dan haji mabrur tidak ada bahasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).
Dari Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)
Dan ingatlah umrah pun termasuk jihad sehingga harus memiliki kesabaran yang tinggi.
‘Aisyah berkata,
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ ».
“Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR. Ibnu Majah no. 2901, hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani).
Hanya Allah yang memberi taufik.

@ Imigrasi Jeddah, 2 Rabi’ul Awwal 1435 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal / http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/umrah-butuh-kesabaran.html
sumber;blog.berdakwah.net

Demonstrasi Bukan Jalan Dakwah Islam

Tidak samar bagi siapa pun, demonstrasi di negeri ini menjadi budaya yang terus dihidupkan dan dikembangkan, seolah-olah ia menjadi senjata ampuh untuk keluar dari sebuah permasalahan. Siapa yang tidak ada keinginan untuk itu dicap sebagai pengecut dan tidak ada kemauan untuk memperbaiki keadaan. Lalu, benarkah demo menjadi solusi untuk bisa keluar dari kesulitan dan masalah?
Kalau mau jujur, akibat yang ditimbulkan dari berdemonstrasi jauh lebih rusak dan mengerikan dibandingkan problem yang terjadi. Anda lihat, bagaimana aksi-aksi yang dilakukan para demonstran akhir-akhir ini, sungguh di luar kewajaran dan melampaui batasan, seperti aksi jahit mulut hingga aksi bunuh diri. Aksi-aksi ini akan terus berlangsung, bahkan bisa jadi semakin mengerikan. Nas’alullah as-salamah.
Demonstrasi
Siapa yang rugi? Apakah masalah selesai setelah itu? Justru masalah kian membesar dan akan bertambah. Kondisi seperti ini diperparah dengan adanya fatwa-fatwa dari pihak yang tidak bertanggung jawab dengan menyatakan bahwa demonstrasi adalah wasilah dakwah, bagian dari bentuk amar ma’ruf nahi munkar, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Saya tidak melihat aksi demonstrasi dengan berjalan kaki atau longmarch sebagai solusi. Justru, saya melihatnya hanya sebagai sebab timbulnya fitnah dan kejelekan serta sebab tindakan zalim dan aniaya kepada sebagian pihak. Cara yang disyariatkan adalah mengirim surat, menyampaikan nasihat dan berdakwah kepada kebaikan dengan metode yang syar’i yang telah diuraikan oleh para ulama. Jadi, dengan mengirim tulisan (surat), berbicara langsung kepada pemimpin/pemerintah, atau melalui telepon, dan menyampaikan nasihat. Tidak mengumbar kejelekan-kejelekan pemerintah di atas mimbar-mimbar. Wallahulmusta’an.” (Fatawa al-’Ulama al-Akabir)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang wajib bagi kita adalah menasihati pemerintah sesuai kemampuan. Adapun aksi turun ke jalan dan melakukan protes secara terang-terangan, maka ini menyelisihi petunjuk para salaf, dan aksi-aksi tadi sama sekali tidak nyambung dengan syariat. Tidak pula dengan upaya perbaikan. Semua itu hanyalah kemudaratan. Tidak boleh mendukung aksi demonstrasi dan semisalnya, karena upaya perbaikan dapat dilakukan dengan selainitu.” (Fatawa al-Ulama al-Akabir)
Di lain kesempatan, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan, “Penting kiranya untuk memahami manhaj salaf dalam bermuamalah dengan pemerintah, jangan sampai kesalahan pemerintah dijadikan celah untuk memprovokasi manusia dan menjauhkannya dari pemerintah karena ini adalah kerusakan dan satu penyebab utama munculnya fitnah.
Berpalingnya hati dari pemerintah akan mendatangkan fitnah, kejelekan, dan kekacauan. Begitu pun berpalingnya hati dari para ulama akan mendatangkan sikap meremehkan para ulama dan lebih jauhnya lagi meremehkan syariat.
Maka, yang wajib adalah melihat apa yang telah ditempuh oleh para salaf dalam menghadapi pemerintahnya. Seseorang harus berhati-hati dan selalu melihat apa akibat yang akan timbul. Penting diketahui bahwa orang yang gemar melakukan provokasi pada hakikatnya sedang membantu musuh-musuh Islam.
Yang jadi patokan bukanlah dengan provokasi, bukan pula dengan menampakkan emosi yang meluap-luap. Akan tetapi, patokannya adalah adanya hikmah, dan saya tidak memaksudkan kata hikmah berarti mendiamkan kesalahan, namun memperbaiki kesalahan agar hukum/keadaan menjadi lebih baik.” (Mu’amalatul Hukkam)
***
dikutip dari ” Sikap-sikap yang Salah Terhadap Pemerintah “
Oleh : al Ustadz Abu Hamzah Yusuf
AsySyariah.com | al-uyeah.blogspot.com/2013/11/demonstrasi.htm